Tips Membersihkan Usus Dengan Mengontrol Makanan dan Penggunaan Antibiotik

0
17

Niat Anda untuk hanya mengonsumsi makanan sehat selalu gagal di tengah jalan. Apa daya, godaan makanan jajanan di luar sana sangat menggugah selera, mulai dari deretan restoran fast food, kafe kopi, kedai minuman milk tea, bahkan gerobak tukang gorengan.

Ditambah lagi dengan fakta bahwa makanan sehari-hari yang kita makan sudah tercemar oleh vaksin, obat-obatan, hormon, dan pestisida. Bayangkan seperti apa kondisi usus Anda saat ini. Dan mengingat usus adalah pusat sistem pencernaan yang mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan, tak heran jika tubuh Anda pun pada akhirnya mulai mudah disusupi penyakit dan berbagai keluhan lainnya.

Kabar baiknya, usus besar Anda yang selama ini menampung sisa-sisa makanan, bisa dibersihkan dan dikembalikan fungsi normalnya dengan cara-cara alami. Membersihkan usus besar juga membantu meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, dan dapat mengurangi risiko terkena kanker usus besar. Usus yang bersih dari sisa-sisa makanan dan hasil metabolisme, akan membuat perut Anda terasa lega. Dan yang paling penting, bisa membantu menurunkan berat badan.

Dinding usus yang bersih akan menyerap nutrisi lebih baik, yaitu hanya air, vitamin, dan nutrisi penting saja yang diserap ke dalam aliran darah. Nutrisi buruk, racun, dan bakteri dari makanan, akan dikeluarkan melalui dinding usus. Masalah pencernaan yang selama ini Anda alami, seperti sembelit, wasir, dan varises, juga akan teratasi.

Tak perlu mengeluarkan biaya banyak untuk terapi pembersihan usus ini. Cukup konsumsi makanan-makanan berikut:

  1. Buah-buahan, sayuran, dan air akan membantu menjaga sistem pencernaan dan tubuh terhidrasi sepanjang hari. Makanan tersebut juga membantu menghilangkan semua kotoran dan sisa metabolisme yang menempel pada dinding sistem pencernaan, serta membuat feses menjadi lebih lunak sehingga mudah dikeluarkan. Menghindari lemak, makanan olahan, serta makanan yang digoreng juga penting dilakukan bersamaan dengan Anda mengonsumsi buah dan sayur, karena makanan ini dapat mempercepat akumulasi racun dalam tubuh dan memperlambat kerja usus besar. Buah, sayur, dan air juga membantu Anda melawan beberapa kondisi atau penyakit kronis, membantu penurunan berat badan, bahkan menghambat proses penuaan.
  2. Makanan fermentasi kaya akan probiotik yang terdiri dari bakteri baik. Ini termasuk tempe, yogurt, kimchi, dan minuman teh kombucha. Probiotik membantu mengembalikan keseimbangan flora usus Anda, yang selama ini ‘kacau’ akibat faktor bahan kimia lingkungan dan makanan, obat-obatan antibiotik, makanan olahan, dan
  3. Sayuran berdaun hijau tua, seperti bayam dan kangkung, membantu membersihkan usus besar dan melindungi saluran pencernaan dari banyak Buah-buahan dan sayuran hijau ini kaya akan klorofil. Lemak larut yang terkandung di dalam klorofil akan melekat pada lapisan dinding usus dan menghambat pertumbuhan bakteri dan mengikis sisa-sisa metabolisme atau racun yang membusuk di permukaan dinding usus besar.
  4. Bawang putih memiliki khasiat antivirus, antibakteri, dan antiparasit, sehingga ampuh membantu menghilangkan racun, patogen, dan parasit dari saluran pencernaan, terutama dari usus besar. Bawang putih juga bertindak sebagai antioksidan yang membantu mengurangi peradangan untuk meningkatkan fungsi pencernaan, penyerapan nutrisi makanan, dan pembuangan r
  5. Grain whole atau biji-bijian yang diolah menjadi roti, pasta, dan tepung yang kaya serat, rendah kalori dan kolesterol. Rutin mengonsumsi ini akan membantu pembersihan usus dan membantu kerja sistem
  6. Kacang polong dikenal sebagai makanan anti-inflamasi karena kaya akan antioksidan dan fitonutrien yang merupakan salah satu sumber serat makanan. Tambahkan setengah cangkir kacang polong ke dalam diet Anda sehari-hari untuk mendapatkan tambahan asupan serat sekitar 8 sampai 11 gram. Kacang-kacangan juga merupakan gudang nutrisi bagi vitamin dan mineral, termasuk vitamin B, kalsium, magnesium, besi, seng, kalium, dan protein. Dan tidak seperti sumber protein hewani, kacang-kacangan bebas hormon, steroid, dan antibiotik.
  7. Teh hijau mengandung banyak anti oksidan dan vitamin C yang membantu menghilangkan racun dari tubuh. Secara umum, teh peppermint, teh daun senna, teh dari biji rami, atau teh herbal lainnya, bekerja sama baiknya sebagai pembersih usus besar.
  8. Buah jeruk, seperti lemon dan jeruk nipis, juga bermanfaat dalam pembersihan usus karena sifat antiseptik yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Minum segelas air yang ditambahkan perasan lemon atau jeruk nipis setiap pagi akan membantu mendetoksifikasi dan membersihkan sistem pencernaan Anda.
  9. Alpukat kaya akan asam lemak omega-3 yang berfungsi membantu melumasi dinding usus dan mencegah racun dari makanan menempel pada dinding usus.

Bijak Menggunakan Puyer Dan Anti Biotik

Badan kesehatan dunia (WHO) melaporkan lebih dari 50% obat-obatan di seluruh dunia diresepkan dan dikonsumsi secara tidak tepat, dan sekitar separuh orang yang mengonsumsi obat tidak melakukannya sesuai petunjuk. Bentuk ketidaktepatan ini adalah penggunaan berlebihan (overuse) atau sebaliknya, kurang (underuse), dan penyalahgunaan (misuse) obat. Istilahnya, irrational use of medicines (IRUM). IRUM berlawanan dengan RUM (rational use of medicines), yaitu penggunaan obat-obatan yang tepat, sesuai indikasi, serta menuntut pemakaian dosis dan waktu penggunaan yang sesuai, dengan biaya yang dikeluarkan oleh pasien (konsumen kesehatan) serendah mungkin.

Bentuk-bentuk IRUM yang sering terjadi antara lain, polifarmasi (menggunakan banyak obat), overuse antibiotik dan obat suntik, ketidaksesuaian antara obat yang diresepkan dengan panduan pengobatan (guidelines), dan pasien yang membeli dan mengonsumsi sendiri obat tanpa konsultasi dokter.

Data dari WHO menyimpulkan, hanya kurang dari 40 % pasien yang ditangani di layanan kesehatan swasta. Sebanyak lebih dari 40% anak yang mengalami diare akut (umumnya akibat infeksi virus) mendapatkan antibiotik yang tidak perlu, dan 60% penderita infeksi saluran napas atas akibat virus diberikan antibiotik.

Bagaimana dengan kondisi di Indonesia? Penelitian WHO pada tahun 2005 menunjukkan, 50 % resep di puskesmas dan Rumah Sakit di Indonesia mengandung antibiotik. Bagian farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada  bekerjasama dengan pengawas obat dan makanan pada tahun 1998 menemukan, 92-98% kasus infeksi saluran napas atas nonpneumonia mendapatkan antibiotik jika berobat ke puskesmas.

Yayasan Orangtua Peduli (YOP), sebuah lembaga nirlaba pemberdaya konsumen kesehatan, pernah melakukan penelitian yang menyimpulkan anak-anak yang mengalami infeksi virus mendapatkan tiga sampai lima obat yang biasanya diracik dalam satu puyer dan dikategorikan sebagai polifarmasi.

Risiko IRUM

Apa sebenarnya risiko dari IRUM, khususnya dalam hal peresepan antibiotik yang berlebihan dan kebiasaan pemberian puyer? Meracik beberapa obat dalam satu sediaan kerapkali tidak memerhatikan interaksi antara obat dan cenderung berlebihan dalam mengatasi satu diagnosis yang sebenarnya merupakan infeksi virus dan akan sembuh dengan sendirinya.

Misalnya, anak yang didiagnosis selesma mendapatkan satu racikan puyer berisi: antihistamin (ditujukan untuk meredakan gejala bersin, padahal mekanisme bersin dan produksi ingus salesma bukan karena alergi), antitusif seperti dekstrometorfan (penekan refleks batuk tidak diizinkan penggunaannya pada anak, karena justru membuat lendir sukar dikeluarkan dan anak menjadi sesak), dekongestan atau pelega hidung tersumbat seperti pseudoefedrin (mempunyai efek samping jantung berdebar-debar), mukolitik atau pengecer dahak seperti ambroksol (efektivitasnya tidak lebih daripada banyak minum), dan kadang ditambah steroid (anti radang seperti prednisone atau deksametoson) serta anti kejang (anak demam dikhawatirkan kejang, padahal sangat jarang, dan obat jenis ini cenderung menimbulkan kantuk).

Jika kita hitung, ada enam obat yang dicampurkan dalam satu sediaan. Cara menyampurnya pun umumnya di satu lumping yang belum tentu bersih dari racikan obat pasien sebelumnya, dan dibagi-bagi dengan mata telanjang secara subjektif dari satu kertas puyer ke kertas puyer lainnya.

Selesma tidak membutuhkan obat spesifik apalagi antibiotic, karena bukan infeksi bakteri. Obat-obatan simtomatik juga tak perlu, karena tidak terbukti membantu pemulihan. Hanya obat pereda demam (antipirek) yang dinilai membantu.

Risiko terberatnya, resistensi antibiotik ketika kondisi antibiotik yang diberikan tidak lagi berhasil mengatasi infeksi bakteri, karena bakteri tersebut sudah kebal. Kuman yang kebal ini sering disebut “superbug” dan meningkat risiko kematian di masyarakat. Misalnya pada penyakit TB yang awalnya mudah disembuhkan dengan antibiotik standar sesuai guidelines, akibat munculnya bakteri resistan ini penderita TB jadi sukar disembuhkan dan sulit mencari antibiotic penganti, sehingga angka kematian meningkat.

Sebagai makhluk hidup, bakteri memiliki naluri bertahan (survival of the fittest). Maka, pemberian antibiotik berlebihan yang tidak pada tempatnya menciptakan superbugs baru, meskipun antibiotik lainnya yang dianggap lebih canggih selalu diberikan. Kondisi akhir yang dikhawatirkan para ilmuwan adalah terciptanya post-antibiotik era, yaitu ketika infeksi bakteri sudah tidak bisa ditangani dengan antibiotic manapun. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here