Arti Hipertrofi Dari Sudut Pandang Medis

0
20

Hampir kebanyakan pria tentunya memiliki tubuh yang kekar dan berotot layaknya atlit ataupun binaragawan, namun bagaimana hal ini dari sudut pandang medis atau kesehatan?. Dalam bidang ilmu medis/ kesehatan, sebenarnya otot yang kekar adalah bentuk kelainan atau kondisi yang disebut dengan hipertrofi.

Hipertrofi ini dapat dijelaskan sebagai peningkatan sel-sel otot dalam segi ukuran atau dapat juga dikatakan atau pertambahan massa otot. Kondisi otot ini sendiri dapat terjadi dikarenakan meningkatnya jumlah miosin dan flamen aktin dalam serat otot. Hipertrofi otot yang juga dikenal dengan istilah hipertrofi serat ini pada umumnya terjadi sebagai sebuah respon terhadap kontraksi otot dengan kekuatan maksimal.

Jika anda membaca atau merangkum kondisi hipertrofi otot ini dari beberapa buku binaragawan ataupun atlit yang membahas hipertrofi otot kerangka, anda akan mendapati hipertrofi otot ini dibagi menjadi 2 jenis yaitu:

Hipertrofi Sarkoplasma

Pada jenis hipertrofi sarkoplasma ini, terjadi peningkatan volume cairan dalam sel otot namun tidak terjadi peningkatan kekuatan pada otot.

Hipertrofi miofibrillar

Berbeda dengan Hipertrofi sarkoplasma, pada hipertrofi miofibrillar terjadi peningkatan miosi dan protein kontraktil yang diiringi dengan peningkatan ukuran maupun kekuatan otot.

Seperti yang telah diungkap sebelumnya bahwa peningkatan volume sel-sel otot ini dapat terjadi sebagai reaksi atau respon kontraksi otot dengan kekuatan maksimal, respon adaptif ini befungsi meningkatkan kemampuan otot dalam menahan kelelahan dalam kondisi anaerobik. Namun sebagian dari anda pasti memiliki pertanyaan terkait bagaimana kontraksi otot dapat memicu kondisi hipertrofi?.

Sebenarnya hal tersebut dapat dijelaskan dengan cukup sederhana dan ringkas dimana saat terjadi kontraksi otot, maka sintensis protein kontraktil otot akan berlangsung lebih cepat. Sintesis protein kontraktil otot tersebut menghasilkan peningkatan jumlah miosin dan filamen aktin. Miofibril yang dihasilkan dari sintesis protein kontraktil otot tersebut akan pecah dan membentuk miofibril yang baru. Peningkatan miofibril inilah yang membuat serat otot bertambah dan menjadi kondisi hipertrofi.

Kecepatan hipertrofi sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor biologis seperti:

Faktor umur

Laki-laki  yang masih dalam pubertas memiliki kemungkinan hipertrofi dalam kecepatan tinggi yang terus meningkat. Kecepatan hipertrofi normal ini pada umumnya akan berhenti ketika laki-laki tersebut telah melewati masa remaja akhir. Setelah melewati masa remaja akhir tersebut, hipertrofi otot tetap dapat ditingkatkan namun melalui latihan anerobik dan kekuatan dengan intensitas tinggi yang berdurasi pendek.

Pada poin ini kebanyakan orang banyak salah mengartikan bahwa untuk pembentukan otot/ hipertrofi diperlukan latihhan kekuatan dan anaerobik dalam intensitas tinggi dan durasi yang panjang. Hal tersebut merupakan pemikiran yang salah dimana hal tersebut justru tidak menghasilkan hipertrofi.

Nutrisi/ asupan gizi

Pada umumnya untuk menghasilkan hipertrofi otot, maka asupan atau supply asama amino yang cukup adalah hal yang sangat penting. Pada poin ini, seseorang yang ingin meningkatkan massa otot dapat mengonsumsi makanan yang dapat membuat peningkatan/ men-supply asam amino dalam tubuh tersebut.

Dari beberapa sumber yang membahas topik dan poin yang sama terkait dengan hipertrofi ini, kebanyakan mencantumkan poin yang menyatakan bahwa sebenarnya hipertrofi merupakan kondisi yang tidak boleh terjadi pada otot saat latihan. Hal tersebut dikarenakan , jika hipertrofi terjadi maka dapat menyebabkan terjadinya kelelahn otot dikarenakan semakin besarnya yang dibutuhkan.

Hipertrofi pada saat latihan akan menghasilkan banyak asam laktat dan kondisi dimana ion hidrogen(H+) meningkat disertai Ph yang menurun. Terjadinya peningkan ion hidrogen(H+) ini akan menghambat fosfofruktoksinase yang akan mengurangi supply ATP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here