bahaya kelelahan otot
bahaya kelelahan otot

Macam-Macam Otot Manusia dan Penyakit Yang Menyerang Otot

Posted on

Kelelahan Otot dapat menyebabkan penyakit otot yang berbahaya. Kelelahan otot berarti kondisi otot yang terlalu berat mengangkat beban. Otot adalah salah satu jaringan di dalam tubuh manusia atau hewan yang berfungsi sebagai alat gerak aktif. Cara kerja otot adalah dengan berkontraksi dan berelaksasi. Otot mempunyai beberapa fungsi, diantaranya membantu sirkulasi aliran darah, menggerakan tulang, dan menggerakan denyut jantung.

Karakteristik otot

Otot mempunyai 3 macam karakteristik, yaitu:

  • Kemampuan otot dalam berkontraksi dikenal dengan istilah kontrabilitas
  • Kemampuan otot dalam berelaksasi dikenal dengan istilah Ekstensibilitas
  • Kemampuan otot kembali ke bentuk semula setelah berkontraksi dan berelaksasi dikenal dengan istilah elastisitas

Macam-macam gerak otot

Beberapa macam gerak otot, yaitu:

  • Ekstensi : gerak meluruskan
  • Fleksi : gerak membengkokan
  • Abduksi : gerak menjauhkan
  • Adduksi : gerak mendekatkan
  • Depresi   : gerak kebawah
  • Elevasi : gerak keatas
  • Supinasi : gerak menengadah
  • Prenasi : gerak menelungkup

Macam-macam otot manusia

Di dalam tubuh manusia terdapat  3 macam otot, yaitu otot polos, otot lurik, dan otot jantung.

  1. Otot polos

Otot polos merupakan otot yang bekerja di bawah pengaruh sistem syaraf tak sadar (syaraf otonom), sehingga seringkali disebut sebagai otot tak sadar. Otot polos tersusun dari sel-sel berbentuk gelendong dengan ujung runcing. Biasanya terletak di dinding organ berongga, seperti saluran peredaran darah pada organ pernafasan, kerongkongan, perut, otot pada saluran kemih, dan usus.

Berikut ciri-ciri otot polos:

  • Bergerak secara tidak sadar tanpa ada perintah dari otak (involunter)
  • Bekerja di bawah pengaruh syaraf tak sadar atau syaraf otonom
  • Berada pada organ dalam
  • Mempunyai bentuk seperti perahu dengan satu inti sel berada di tengah
  • Pergerakannya lambat dan mudah mengalami kelelahan
  • Waktu berkontraksi sekitar 3-180 detik
  1. Otot lurik (otot rangka)

Otot lurik sering dikenal dengan istilah otot rangka karena melekat pada tulang dan berperan sebagai pergerakan kerangka manusia. Disebut sebagai otot lurik karena berbentuk pita bergaris yang berselang-seling dengan sisi gelap – terang. Otot lurik terdiri dari aktin dan myosin yang  membentuk pola sarkomer.

Berbeda dari otot polos, otot lurik bekerja secara sadar (volunter) di bawah pengaruh syaraf otak.

Berikut ciri-ciri otot lurik (otot rangka):

  • Bekerja secara sadar dengan perintah dari syaraf otak
  • Mempunyai bentuk panjang
  • Terdiri dari banyak inti sel (multi sel), letak inti sel berada di tepi
  • Memiliki pigmen mioglobin
  • Melekat pada rangka manusia
  • Mempunyai gerakan yang kuat, cepat, tetapi mudah lelah
  1. Otot jantung

Otot jantung dikenal dengan myocardium, merupakan perpaduan antara otot polos dan otot lurik. Otot jantung memiliki pita bergaris berselang-seling dan inti sel berada di tengah. Fungsi dari otot jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh, dimana otot jantung bekerja secara tidak sadar (involunter) dibawah pengaruh saraf parasimpatik dan simpatik.

Otot jantung cenderung tidak mudah lelah karena mempunyai sejumlah mioglobin dan mitokondria. Di samping itu, adanya suplai darah yang mengalir ke jantung secara terus-menerus juga memungkinkan terjadinya metabolisme aerobik tanpa henti.

Berikut ciri-ciri otot jantung:

  • Berbentuk silindris dengan adanya percabangan (sinsitium)
  • Melekat pada organ jantung
  • Terdapat pola gelap-terang dan hanya ada satu inti sel di bagian tengah
  • Bekerja tanpa lelah dan secara terus-menerus
  • Bekerja secara tidak sadar (involunter)

kelelahan otot

Mengenal Pengecilan Otot, Atrofi Otot

Sebagian besar dari anda sekalian mungkin belum pernah mendengar istilah atrofi sebelumnya. Dalam dunia medis, atrofi dapat dijelaskan sebagai kondisi/ sintoma pengecilan atau penyusutan jaringan ataupun organ tubuh. Terjadinya pengecilan atau penyusutan tersebut dapat terjadi disebabkan oleh sel-sel parenchym yang memiliki fugsi dalam menjalankan alat tubuh mengalami penyusutan atau pengecilan.

Pada kondisi lain, atrofi ini juga dapat terjadi dikarenakan kondisi dimana otot tidak atau jarang digunakan. Kondisi ini memicu berkurangnya kandungan miosin dan aktin di dalam otot, sehingga serat-serat otot menjadi mengecil/menyusut  serta kehilangan massa. Menyusutnya sel-sel otot yang berujung pada kehilangan massa otot inilah yang membuat otot menjadi sangat lemah.

Penyakit yang menyerang jaringan otot ini memiliki resiko tinggi untuk terjadi pada 2 kondisi tertentu, adapun 2 kondisi tersebut adalah:

Disuse Atrophy

Ketika seseorang jarang/ tidak menggunakan otot-ototnya dalam kurun waktu yang lama, hal tersebut dapat memicu/ menyebabkan pengecilan jaringan otot walaupun dalam kondisi persyarafan yang utuh, kondisi inilah yang dikenal dalam dunia medis sebagai Disuse Atrophy. Sebagai contoh kasus sederhana , seseorang yang mengalami cidera dan harus menggunakan gips dalam waktu lama.

Atrofi denervasi

Selain disebabkan oleh penggunaan otot yang jarang dalam kurun waktu tertentu atau yang disebut dengan Disuse Atrophy, Atropi juga dapat timbul dikarenakan terputusnya saraf pada suatu otot(Atrofi denervasi). Kondisi penyebab atrofi yang satu ini dapat diatasi/ dipulihkan memberikan rangsangan secara listrik. Namun yang harus dipahami bahwa hal ini tidak dapat memberikan pemulihan secara menyeluruh meskipun atrofi dapat diatasi/ dihilangkan.

Pada saat otot mengalami cidera berupa kerusakan, kondisi tersebut dapat dipulihkan secara  terbatas, walaupun sel-sel otot tidak memiliki kemampuan mitosis/ membelah diri untuk menggantikan kehilangan sel-se otot akibat kerusakan/ cidera. Pemulihan tersebut dapat terjadi dikarenakan adanya sel-sel mioblas yang berada di dekat permukaan otot. Ketika serat-serat otot mengalami kerusakan, sel-sel mioblas ini akan melakukan fusi dengan membentuk sel besar berinti banyak yang mensintesis dan menyusun intrasel khas guna menggantikan serat otot yang mengalami kerusakan sebelumnya. Akan tetapi mekanisme yang dilakukan oleh sel-sel mioblas ini tidak cukup untuk menggatikan semua serat otot pada kasus cidera otot luas.

Kembali membahas mengenai atrofi, atrofi ini sendiri dapat dikatakan memiliki banyak jenis berbeda dalam klasifikasinya. Adapun beberapa jenis atrofi yang dikenal dalam dunia medis/ kesehatan adalah:

Atrofi fisiologis

Atrofi fisiologis ini adalah kondisi dimana alat tubuh mengalami pengecilan/ penyusutan dan juga berpotensi hilang selama masa perkembangan. Beberapa contoh kasus atrofi jenis ini dapat dilihat dari kasus pengecilan kelenjar thymus ataupun ductus thyroglossus.

Atrofi Senilis

Atrofi Senilis ini adalah jenis Atrofi yang terjadi pada orang-orang dengan usia lanjut( aging process).

Atrofi setempat/ Local Atrophy

Atrofi setempat/ Local Atrophy ini adalah jenis atrofi yang dapat muncul diakibatkan penyebab atau kondisi-kondisi tertentu.

Atrofi inaktifitas

Atrofi ini merupakan nama lain dari kondisi Disuse Atrophy yang diurai sebelumnya dimana terjadi pengecilan jaringan/ serat otot dikarenakan aktifitas atau faktor tertentu. Contoh kasus dari Atrofi jenis ini dapat dilihat dari kelumpuhan otot yang disebabkan hilangnya persarafan pada polimyelitis.

Atrofi desakan/ tekanan / pressure Atrophy

Atrofi desakan ini dapat terjadi ketika jaringan atau alat tubuh mengalami desakan/ tekanan secara terus menerus  yang berlangsung pada waktu yang lama. Atrofi ini sendiri juga dibagi menjadi 2 tipe berbeda, yaitu:

  • Atrofi desakan fisiologis
  • Atrofi desakan patologis

Mengenal Jenis Kelelahan Otot dan Penyebabnya

Kelelahan otot atau yang kerap juga disebut fatigue dalam bahasa Inggris adalah suatu kondisi yang terjadi setelah otot mengalami kontraksi kuat/ maksimal dalam waktu lama yang menyebabkan otot tidak dapat melakukan kontraksi lagi dalam jangka waktu tertentu. Kelelahan otot sendiri secara umum dapat diketahui melalui persentase penurunan kekuatan otot, waktu pemulihan kelelahan dan batas waktu hingga terjadinya kelelahan/ waktu maksimal hingga otot mengalami kelelahan sebagai dasarnya.

Sedangkan untuk kelelahan otot, kelelahan otot dapat dikaslifikasikan menjadi 2 tipe yaitu:

Kelelahan di sistem saraf pusat/ kelelahan pusat

Jenis kelelahan otot di sistem saraf pusat/ kelelahan pusat adalah jenis kelelahan yang terjadi akibat sistem saraf pusat yang gagal melakukan rekrut jumlah dan pengaktifan motor unit yang terlibat dalam kontraksi otot. Hal tersebut membuat berkurangnya jumlah motor unit  serta frekuensi pengaktifan motor unit yang berujung dengan berkurangnya/ tidak maksimalnya kontraksi otot.

Kelelahan yang berlokasi di luar saraf pusat/ kelelahan perifer

Kelelahan otot yang berlokasi di luar saraf pusat atau yang juga banyak disebut kelelahan perifer adalah jenis kelelahan otot yang terjadi dikarenakan faktor luar saraf pusat.  Jika diurai secara lebih sederhana, jenis kelelahan perifer ini adalah bentuk ketidakmampuan otot untuk berkontraksi dengan maksimal. Ketidakmampuan otot untuk melakukan kontraksi secara maksimal ini dapat terjadi dikarenakan beberapa faktor, beberapa diantaranya adalah:

Terjadi gangguan pada kemampuan saraf

Kelelahan yang disebabkan terjadinya gangguan pada kemampuan saraf adalah jenis gangguan neuromuscular junction dimana sarcolemma tidak dapat mempertahankan konsentrasi K+ dan juga Na+ yang menyebabkan penurunann depolarisasi sel dan amplitudo potensial aksial. Hal tersebut memicu  berkurangnya perambatan impuls dan membuat membran otot tidak mampu untuk men-konduksi potensil aksial.

Supply/ ketersedian energi yang digunakan untuk melakukan kontraksi

Kemampuan mekanik otot untuk berkontraksi

Namun apakah yang dapat menyebabkan terjadinya kelelahan otot/ fatigue ini?. Kelelahan otot/ fatigue ini sendiri dapat terjadi dikarenakan beberapa faktor yang meliputi:

Terjadinya penumpukkan asam laktat

Salah satu faktor utama terjadinya kelelahan otot/ fatigue adalah terjadinya penumpukkan asam laktat. Kelelahan otot ini disebabkan asam laktat yang menumpuk pada intramuscular yang diiringi dengan penurunan puncak tegangan. Sedikit menjelaskan, puncak tegangan menurun merupakan istilah yang digunakan sebagai ukuran kelelahan yang terjadi pada kondisi rasio asam laktat pada otot merah dan putih dalam keadaan meningkat. Secara sederhana dapat ditarik kesimpulan bahwa kelelahan yang terjadi pada serabut-serabut otot putih terkait dengan kemampuan pembentukan asam laktat.

Peningkatan atau penumpukkan asam laktat biasanya juga akan terkait dengan peningkatan konsentrasi ion hidrogen(H+) dan penurunan pH yang menghambat proses eksitasi dan juga kegiatan/ kinerja fosfofruktokinase. Fosfofruktokinase adalah enzim yang berperan penting dalam glikolisis anaerobik. Melambatnya proses glikolisis anaerobik ini akan memicu berkurangnya supply ATP untuk energi.

Pengosongan penyimpanan PC dan ATP

Istilah PC ini sangat erat kaitannya dengan ATP, dimana PC digunakan untuk resintesa  ATP. ATP sendiri merupakan sumber energi yang dibutuhkan oleh otot untuk melakukan kontraksi.

Terjadinya pengosongan penyimpanan glikogen otot

Untuk faktor yang satu ini, sebenarnya hubungan antara glikogen otot dan kelelahan otot belum dapat ditentukan dengan jelas.  Namun faktor ini merujuk pada faktor lain yang menyebabkan kelelahan otot pada saat latihan, salah satunya level/ rendahnya glukosa pada darah dimana rendahnya glukosa pada hati tersebut memicu pengosongan cadangan glikogen di hati.

 

Gravatar Image
Website ini dibangun dengan harapan mampu memberikan informasi yang berkualitas dalam berbagai topik, Kami membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor sebagai penulis tetap di website ini.