Dampak Emosi Negatif Terhadap Kesehatan Jantung

0
55

Seperti halnya senang dan gembira, marah dan kecewa juga merupakan emosi normal pada manusia. Masalahnya adalah, bagaimana cara mengelola kemarahan dan kekecewaan supaya tidak menjadi liar dan menjurus ke tindak negatif? Bahkan pada titik paling ekstrim, kemarahan dan kekecewaan bisa diikuti dengan tindakan menyakiti diri sendiri atau orang lain. Lalu, apakah kita tidak boleh marah?

Marah boleh, tapi yang perlu Anda ingat, mengekspresikan emosi secara berlebihan, baik itu emosi positif maupun negatif, tidak dapat diterima oleh masyarakat. Itu sebabnya Anda perlu berlatih mengendalikan emosi. Mengendalikan emosi di sini bukan berarti menekan emosi yang Anda alami ke dalam alam bawah sadar dan mengabaikan atau menganggap emosi itu tidak ada. Anda tetap perlu mengakui emosi-emosi yang Anda rasakan dalam hati, namun tanpa mengekspresikannya begitu saja. Dan tahukah Anda, mengendalikan emosi ternyata merupakan salah satu cara untuk tetap sehat secara fisik dan psikis, lho.

Anda mungkin sering melihat tayangan sinetron yang menggambarkan seseorang terkena serangan jantung setelah mengumbar emosinya secara berlebihan. Ternyata, adegan itu tidak berlebihan. Perasaan negatif, termasuk marah, memang bukan sekadar urusan emosi semata, melainkan dapat berefek buruk pada fisik, terutama jantung. Pada saat amarah meluap, hipotalamus, bagian otak seukuran kacang almond yang terletak tepat di atas batang otak, memerintahkan kelenjar anak ginjal untuk membanjiri darah dengan hormon katekolamin dan kortisol. Hormon-hormon stres ini akan membuat jantung berdegup lebih kencang, tekanan darah melonjak, otot-otot menegang, napas memburu, dan asam lambung meningkat. Perasaan negatif yang terus-menerus dipelihara membuat keping-keping darah menjadi mudah lengket satu sama lain.

Melalui ribuan wawancara dengan pasien serangan jantung, para ilmuwan asal John Hopkins University mendapati bahwa perilaku mudah naik pitam, lepas kontrol emosi di ruang kerja, memisahkan diri dari teman-teman dan keluarga, serta terus mengalami depresi bisa menggerus fungsi pompa jantung. Peneliti juga membuktikan, mereka yang bertemperamen ‘panas’, walaupun masih berusia muda, memiliki risiko tiga kali lipat menderita penyakit jantung sebelum berusia 55 tahun.

Lalu, apa hubungannya antara perasaan negatif dengan kesehatan jantung? Ternyata, ada korelasi antara sifat mudah stres serta naik pitam dan pola hidup tidak sehat. Para pemarah cenderung banyak merokok, kecanduan alkohol, pola makan tidak terkontrol, dan kurang berolahraga. Perilaku tidak sehat ini akan memudahkan timbulnya plak (aterosklerosis) pada dinding dalam pembuluh koroner. Letupan emosi kemudian berpotensi memecahkan timbunan plak yang rapuh pada dinding dalam pembuluh koroner. Bila plak itu retak atau pecah, gumpalan darah akan mudah terbentuk sehingga pembuluh koroner tersumbat. Sumbatan ini bisa menyebabkan serangan jantung karena pasokan oksigen dan zat-zat nutrisi bagi sel-sel jantung terhenti.

Emosi yang tak sehat ini juga tak hanya memicu penyakit, melainkan juga menurunkan keberhasilan tindakan atau pengobatan. Berbagai riset secara konsisten membuktikan, walaupun pengobatan ataupun operasi jantung secara teknis berhasil, para penderita, baik laki-laki maupun perempuan, tidak lantas dapat kembali hidup normal. Bila masih mudah marah dalam kehidupan sehari-hari, Anda bisa jadi akan kembali ke ruang gawat darurat walaupun pengobatan atau operasi sebelumnya terbilang sukses.

Bagi Anda yang masih belum bisa mengendalikan emosi, ada kabar baik. Anda bisa minta bantuan pada makanan tertentu yang bisa membantu mengendalikan emosi negatif. Menurut Dr. Patrick Holford, ahli nutrisi Inggris dan pemilik Institute for Optimum Nutrition, menyantap sumber karbohidrat berindeks glikemik rendah (di bawah angka 55), seperti apel, ubi, dan gandum, akan merangsang pembentukan L-tryphotan, yang oleh otak diubah menjadi serotonin yang menimbulkan perasaan senang dan bahagia. Jangan lupa untuk melengkapi santapan Anda ini dengan buah berry dan jeruk. Asupan 1.000 mg vitamin C dapat menurunkan kadar kortisol dalam darah, sejenis hormon yang dilepaskan oleh otak ketika stres melanda.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here