Inilah Alasan Serta Bahaya Tato Bagi dan Kesehatan Tubuh

Posted on

Mentato tubuh tak lagi didominasi oleh kelompok orang tertentu, melainkan sudah diterima oleh hampir segala kalangan, termasuk remaja dan perempuan. Bagi beberapa perempuan, tato bahkan dianggap bisa meningkatkan sisi feminitas dan daya tariknya. Entahlah apa yang membuat tato pada akhirnya semakin diminati.

Padahal dalam Islam telah jelas dikatakan bahwa tato itu sebaiknya tidak dilakukan. Dasarnya adalah larangan dari Rasulullah SAW. “Rasulullah melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya, wanita yang memasang tato, dan yang minta ditato.” (HR Bukhari).

Tato dalam bahasa Arab disebut al-wasymu, yaitu mengukir atau merajah kulit dengan cara memasukkan jarum yang berisi zat pewarna ke dalam tubuh (kulit), untuk kemudian dibuat suatu gambar yang diinginkan pada tubuh (kulit) itu. Tinta yang digunakan bisa merupakan tinta permanen yang tak bisa hilang sampai kapan pun, dan tinta temporer yang akan hilang dalam jangka waktu maksimal 2 minggu. Tujuan orang mentato beragam, ada yang sekedar berhias, atau merupakan tradisi pada sebuah suku. Akan tetapi, tato yang sering dijumpai saat ini membawa dampak negatif, seperti dapat merusak iman dan akhlak. Di sinilah hukum tato kemudian ditetapkan menjadi makruh, bahkan haram. Ada sebuah kaidah hukum fikih yang mengatakan, “Hukum itu mengikuti ilat (sebabnya). Baik keberadaan maupun ketiadaannya”. Artinya, ada sebab muncul hukum, tidak ada sebab tidak ada hukum.

Umur tato sebenarnya hampir sama tuanya dengan umur manusia di bumi. Budaya Arab sekalipun sebenarnya telah mengenal tato sejak lama. Para wanita Arab sering menggunakan hyena yang merupakan tinta temporer untuk berhias. Ini hukumnya mubah. Tapi, bagaimana dengan tato yang menggunakan tinta permanen?

Tato yang menggunakan tinta permanen, yang dilakukan setelah baligh dengan keinginannya sendiri, maka diwajibkan untuk menghilangkannya atau setidaknya berusaha untuk menghilangkannya. Hanya saja, proses mengilangkan tato tersebut sebaiknya tidak sampai merusak anggota tubuh (kulit) yang tertato atau menimbulkan rasa sakit yang di atas kewajaran. Bila demikian, maka menghilangkan tato tak lagi menjadi keharusan, dan cukup bertobat dan menjadi sah shalatnya.

Belakangan kemudian ditemukan teknologi laser untuk menghilangkan tato secara permanen tanpa mencederai kulit. Hal ini menjadikan membuang tato adalah wajib secara mutlak. Namun, jika menghilangkan tato dengan cara laser atau teknologi terbaru lainnya tidak mampu secara finansial, maka tidak wajib baginya menghilangkannya. Namun diwajibkan taubat, menyesali diri, dan menggantinya dengan amal perbuatan yang baik.

Lalu, mengapa Islam mau repot-repot mengatur masalah tato? Pastilah ada alasan yang sangat penting di baliknya. Ternyata, tinta tato mengandung logam berat seperti merkuri, serta zat berbahaya lainnya seperti alkohol, metanol, deterjen, formaldehida, dan aldehida beracun. Bahkan dalam situsnya, US Food and Drug Administration (FDA) pun memperingatkan tentang tinta tato yang mungkin menyebabkan infeksi, reaksi alergi, keloid (pembentukan bekas luka), granuloma (peradangan), dan potensi komplikasi saat kulit dirajah dengan jarum.

Sebuah studi dengan hasil mengkhawatirkan juga diterbitkan oleh Dr. Bob Haley dan Dr. Paul Fischer dari University of Texas Southwestern Medical School di Dallas. Para peneliti ini menemukan bahwa tato komersial dapat menjadi metode penularan penyakit hepatitis C nomor satu. Dr. Haley menyimpulkan bahwa tato komersial menyumbang risiko terkena infeksi hepatitis C dua kali lipat lebih banyak. Jadi jelaslah bahwa larangan bertato dalam Islam bukanlah hal yang mengada-ada atau dibuat-buat, karena semuanya telah dibuktikan secara ilmiah mengenai potensi bahayanya.

Gravatar Image
Website ini dibangun dengan harapan mampu memberikan informasi yang berkualitas dalam berbagai topik, Kami membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor sebagai penulis tetap di website ini.