Thursday , June 22 2017
Home / Khazanah / Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Gagasan Berharga Intelektual Muslim

Islamisasi Ilmu Pengetahuan: Gagasan Berharga Intelektual Muslim

Islamization of Knowledge (islamisasi ilmu pengetahuan), sebuah gagasan yang timbul sejak dasawarsa 1970-an.  Kata “islami”  mengandung dua makna yang kurang lebih berbeda,pertama, kata islami menunjukkan suatu periode sejarah, kedua, menunjukkan suatu aktifitas yang mengandung nilai-nilai islam. Sedangkan arti dari ilmu pengetahuan menurut Sayid Husein Nasr –Seorang tokoh pertama dalam pembicaraan wacana baru tentang ilmu pengetahuan dan islam, 1933 di Teheran, Iran–  berbeda dengan yang biasa diutarakan oleh kebanyakan ilmuwan. Ia menyebut ilmu pengetahuan dengan Scientia Sacra (Sacred science, “ilmu sacral”) untuk menunjukkan bahwa aspek kearifan ternyata jauh lebih penting dari pada aspek teknologi yang sampai saat ini masih menjadi ciri utama ilmu pengetahuan modern.

Pada abad pertengahan (medieval times) banyak berkembang faham barat yang mencoba memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama. Sebut saja Nietzsche, dia berargumen bahwa agama tidak bisa disesuaikan dengan ilmu pengetahuan, ia menambahkan “seseorang tidak dapat mempercayai dogma-dogma agama dan metafisika jika seseorang memiliki metode-metode yang ketat untuk meraih kebenaran di dalam hati dan kepada seseorang. Antara ilmu pengetahuan dan agama masing-masing menempati bintang yang berbeda”. Nampaknya ada indikasi bahwa ia tidak menginginkan nilai-nilai islam masuk kedalam pembahasan ilmu pengetahuan modern.

Sekularisasi ilmu pengetahuan menjadi fondasi utama dalam sepanjang sejarah peradaban barat modern. Dengan adanya sekularisasi ilmu pengetahuan, sedikit demi sedikit akan memisahkan jarak antara ilmu dengan agama, melenyapkan wahyu (al-Qur’an) sebagai sumber ilmu, dan juga memisahkan wujud dari yang sakral. Selain itu sekularisasi ilmu juga telah menjadikan rasio sebagai basis keilmuan secara mutlak, dan mengaburkan maksud serta tujuan ilmu yang sebenarnya, menjadikan keraguan dan dugaan sebagai metodologi ilmiah.

Sebagai solusi menghadapi krisis epistemologi yang sedang melanda segala bentuk pemikiran dan juga sebagai jawaban dari berbagai tantangan yang muncul dari hegemoni westernisasi ilmu maka perlu kiranya menghadirkan suatu gagasan islamisasi ilmu pengetahuan, yang mana dalam bahasa arab istilah islamisasi ilmu disebut juga dengan“islamiyyat al-ma’rifat” dan dalam bahasa inggris disebut sebagai “islamization of knowledge”.

Usaha islamisasi ilmu pada dasarnya telah terjadi sejak masa Rosulullah SAW dan para sahabatnya yang waktu itu diturunkan al-Qur’an dengan bahasa arab, sehingga dengannya mampu merubah watak serta pandangan hidup (world view) dan tingkah laku bangsa arab, (Filsafat dan Praktek Pendidikan Islam, Wan Mohd. Nor Wan Daud, 1998). Oleh karena itu, wacana islamisasi ilmu bukanlah suatu yang baru hanya saja dalam konteks operasionalnya pengislaman ilmu-ilmu masa kini dicetuskan oleh tokoh-tokoh ilmuwan islam seperti: Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, al-Faruqii, Fazlur Rahman, Syed Husein Nasr , dll.

Ungkapan “islamisasi ilmu” memang sedikit mengaburkan makna dalam pembahasannya, sebab istilah tersebut membawa konotasi kepada seluruh ilmu termasuk ilmu-ilmu sains islam yang telah didasarkan al-Qur’an dan sunnah yang dibangun oleh sarjana islam namun tidak islami oleh sebab itu harus diislamkan. Lain halnya dengan istilah “islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer” yang lebih cenderung kembali kepada ilmu barat modern yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman sehingga perlu memasukkan nilai islam kedalamnya.

Munculnya ide islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer disebabkan adanya premis bahwa ilmu pengetahuan kontemporer tidak bebas nilai. Ilmu-ilmu kontemporer yang terkontaminasi oleh premis demikian dan telah melalui proses sekulerisasi dan westernisasi yang tidak lagi sesuai dengan kepercayaan justru ini yang akan membahayakan keadaan umat islam. Naquib al-Attas menegaskan dalam karyanya Islam and Secularism bahwa “ilmu itu tidaklah bebas nilai (value-free) tapi syarat akan nilai (value-laden)”. Dalam islam semua ilmu bersifat universal dan tidak ada pemisahan sedikit pun antara ilmu-ilmu dalam islam dengan nilai agama.

Selain Syed al-Attas, Ismail Raji al-Faruqi juga tidak terlepas dalam pembahasan ini. Al-Faruqi merupakan penggagas proyek Islamization of Knowledge (Islamisasi Ilmu, 1982) yang mana ia telah sampai pada kesimpulan yang dituliskan dalam karyanya bahwa akibat dari kemunduran umat islam yaitu adanya sistem pendidikan yang berusaha menjauhkan umat muslim dari agamanya sendiri dan dari sejarah kegemilangan yang seharusnya dijadikan kebanggaan tersendiri atas agama islam. Oleh sebab itu, ia memberikan solusi yaitu perlunya perbaikan sistem pendidikan yang memadukan antara ilmu-ilmu umum dan agama sebagai langkah membentuk peradaban islam yang sempurna

Antara pemikiran al-Attas dan al-Faruqi terdapat sedikit perbedaan dalam merumuskan islamisasi ilmu. Al-attas lebih mengorientasikan proses islamisasi ilmu kedalam tujuan yaitu untuk melindungi orang islam dari ilmu yang sudah tercemar yang menyesatkan dan menimbulkan kekeliruan. Namun al-Faruqi nampaknya lebih menitikkan islamisasi ilmu kepada “ketauhidan” kemudian membangun ulang penyusunan data, mendefinisikan kembali ilmu serta membentuk kembali tujuan yang mana islam digunakan sebagai kerangka dasar pemikiran.

Proses islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki tiga fase. Prof. Abdel Hamid Sabra, pakar sejarah sains yang berasal dari universitas Harvard mengatakan, gerakan penerjemahan yang dilakukan oleh khalifah al-Ma’mun (w. 833 M) dengan mendirikan perpustakaan yang dinamakan dengan Bayt al-Hikmah sebagai pusat kajian menunjukkan fase pertama dari tiga tahap islamisasi sains. Adapun tahap kedua yaitu fase peralihan atau akuisisi, di mana sains Yunani hadir dihadapan peradaban islam sebagai pendatang atau tamu yang sengaja di undang (an invited guest) bukan sebagai penjajah atau perusak(an invading force) namun pada tahap ini islam masih menjaga jarak serta berhati-hati selalu waspada. Kemudian tahap terakhir adalah fase penerimaan atau adopsi, disini islam telah mengambil dan menikmati apa yang dibawa serta oleh peradaban tersebut.

Pada saat itu pula kemudian lahirlah ilmuwan-ilmuwan hebat seperti: Jabir ibn Hayyan (w.815 M), al-Kindi (w.873) dll. Proses ini tidak berhenti disini saja namun terus berlanjut ke tahap asimilasi dan naturalisasi. Pada fase ini islam telah mampu membuat dan mengonsep ulang ilmu pengetahuan yang syarat akan nilai-nilai keislaman sehingga islam sanggup menjadi pionir dunia di bidang sains dan teknologi. Fase kematangan ini terus berlangsung selama kurang lebih 500 tahun lamanya, dan telah ditandai dengan hasil produktifitas yang tinggi dan tingkat orisinalitas keilmuwan yang benar-benar luar biasa.

Dari paparan diatas, kini jelaslah sudah bahwa islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer memiliki kebenaran-kebenaran tertentu sesuai dengan bingkai ruang dan waktu. Ada satu hal yang mungkin kadang terlupakan yakni kesadaran akan setiap hasil pemikiran manusia yang selalu bersifat historis dan terikat oleh ruang dan waktu. Untuk itu gagasan islamisasi harus tetap dikembangkan, dilaksanakan dan kemudian dievaluasi melalui konsep-konsep, ukuran serta standar sebagai produk “framework islami” yang selalu melibatkan “worldview islam”.

Dengan demikian, proses islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer adalah merupakan respon intelektual yang sangat positif dan tepat. Karena hanya dengan merumuskan dan mengaplikasikan konsep islamisasi inilah kaum muslimin akan mampu mencapai kemajuan ilmiah dan teknologi serta dapat mempertahankan dan bahkan membentengi pola pandang intelektual, moral dan spiritual islam di jiwa umat manusia. Namun bagaimanapun, keberhasilan proses islamisasi pengetahuan modern sangatlah bergantung pada usaha bersama yang terkoordinir oleh intelektual muslim seutuhnya. Wa allahu a’lamu bi as-showaab.

About admin

Website ini dibangun dengan harapan mampu memberikan informasi yang berkualitas dalam berbagai topik, Kami membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor sebagai penulis tetap di website ini.

Check Also

Umat Islam Menjadi Semakin Kokoh Setelah Kasus Pelecehan Al Maidah

Pelecehan Surah Al Maidah ayat 51 oleh Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama dinilai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *