Jangan Sepelekan Perjanjian Hitam Di Atas Putih Dalam Bisnis Properti

Posted on

Meskipun bisnis properti dapat dikategorikan sebagai bisnis yang sangat minim resiko terjadinya kerugian, namun sebagai seorang pebisnis sejati tentunya anda harus memiliki berbagai langkah antispasi untuk semakin meminimkan lagi resiko ketika menjalankan bisnis yang menjanjikan ini. Bisnis properti memang dikenal sebagai bisnis dan laha investasi yang memiliki tingkat resiko sangat kecil mengingat nilai properti yang menjadi obyek dalam investasi serta bisnis ini bisa dibilang tak pernah mengalami penurunan harga jual kembali. Justru nilainya terus meningkat akibat terus bertambahnya permintaan calon pembeli. Apalagi pasar bisnis properti yang masih sangat luas di tanah air tentunya membuat bisnis ini tumbuh begitu subur.

Namun besarnya keuntungan yang bisa diraup dan cenderung kecilnya resiko yang harus anda hadapi tersebut tak boleh membuat anda lengah dengan resiko – resiko lain yang lazim terjadi ketika seseorang menjalankan bisnis properti. Diantaranya yaitu resiko mengalami penipuan dalam proses transaksi penjualan, pembelian maupun kerjasama dengan pihak lain. Ya, terjadinya penipuan ataupun tindakan yang tak sesuai dengan perjanjian adalah kasus yang paling sering terjadi dalam dunia bisnis properti. Tentunya anda sudah seringkali melihat berita – berita di televisi mengenai kasus disitanya rumah atau tanah sengketa yang ricuh karena kedua pihak sama – sama mengaku merupakan pemilik sah atas properti tersebut. Padahal, seharusnya sengketa maupun konflik atas kepemilikan properti tak perlu terjadi jika kedua pihak yang terlibat perjanjian sama – sama memahami isi perjanjian dan menjalankannya sesuai kesepakatan.

Sayangnya, banyak orang yang justru menyepelekan perjanjian ataupun kesepakatan ini. Apalagi jika kesepakatan tersebut dibuat dengan mereka yang sudah dikenal misalnya saja keluarga ataupun kerabat, sehingga kesepakatan hanya terucap secara lisan dengan saksi yang seadaya. Jika sudah demikian, maka perjanjian maupun kesepakatan tersebut hanya memiliki kekuatan antara nurani mereka dan di hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Sebab jika di kemudian hari ada pihak yang melakukan kecurangan ataupun menipu dan tak sesuai dengan kesepakatan awal, maka proses verifikasi siapa pihak yang bersalah dan siapa pihak yang benar – benar menjadi korban pun akan sangat sulit mengingat bukti kesepakatan tak dituangkan dalam bukti yang bisa dihadirkan di hadapan hukum.

Maka bagi anda yang sudah ataupun ingin menjalankan bisnis properti terutama sebagai investor properti, maka anda harus mulai lebih memperhatikan mengenai perjanjian antara anda dan pihak kedua yang bersepakat dan bahkan jika perlu melibatkan pihak ketiga agar lebih terlegitimasi. Dimana perjanjian maupun kesepakatan tersebut kemudian harus dituangkan dalam bentuk hitam di atas putih atau menuangkannya ke dalam surat perjanjian yang sah bermaterai dan bersertifikat sesuai ketentuan hukum dan administrasi properti yang seharusnya. Misalnya saja dengan membuat surat perjanjian dan balik nama dalam proses penjualan maupun pembelian properti. Sebagai tips, anda perlu memiliki pengetahuan apa saja isi perjanjian dan syarat – syarat yang hrus dipenuhi ketika ingin mengambil alih atau membeli properti pihak lainnya sehingga di kemudian hari, properti yang menjadi media investasi anda tersebut tak raiib diakui pihak lain yag mampu memanfaatkan celah kecacatan perjanjian dan surat – surat bukti kepemilikan properti. Jika sudah demikian, aka baik anda maupun pihak kedua yang terlibat dalam perjanjian tentunya akan sama – sama merasa nyaman dan tenang selama maupun pasca transaksi.

 

Gravatar Image
Website ini dibangun dengan harapan mampu memberikan informasi yang berkualitas dalam berbagai topik, Kami membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor sebagai penulis tetap di website ini.