Kebiasaan Yang Dapat Menghilangkan Sindrom Baby Blues

Posted on

Banyak ibu baru yang takut dengan sindrom yang satu ini. Wajar saja, karena sindrom baby blues benar-benar mengacaukan dan mengaduk emosi ibu baru. Awalnya yang terasa adalah bahagia, karena telah melahirkan bayi sehat yang tak kurang suatu apapun. Ibu baru juga bahagia karena kamar di rumah sakit tempatnya menginap selalu ramai oleh para teman dan saudara yang datang menjenguk. Tapi, situasi di atas hanya berlaku selama 3 – 4 hari. Situasi akan berubah ketika ibu baru pulang ke rumah.

Di rumah, hanya berdua saja bersama bayi baru lahir yang tak berdaya dan seratus persen bergantung pada Anda, bisa membuat Anda ‘gila’. Ditambah lagi dengan status Anda sebagai ibu baru yang belum punya pengalaman. Anda merasa kelelahan dan kurang tidur. Tidur malam tak pernah nyenyak, karena terbangun setiap setengah jam akibat rengekan bayi. Tidur siang? Hmm, harus menunggu sampai bayi Anda benar-benar kenyang dan pulas. Tidur nyenyak selama 15 menit sudah merupakan suatu nikmat bagi Anda. Jangankan tidur nyenyak, waktu untuk ke kamar mandi pun sangat sulit, karena sewaktu-waktu bayi Anda bisa menangis menagih ASI.

Deretan ketidaknyamanan di atas, tak heran jika membuat air mata Anda tiba-tiba mengalir tanpa sebab. Anda tak tahu emosi apa yang sedang Anda rasakan. Iya, Anda bahagia karena telah ‘sempurna’ sebagai perempuan, memiliki anak dari rahim sendiri. Tapi, di dalam sudut hati yang lain, ada rasa marah yang menggedor-gedor ingin Anda luapkan, tapi entah kepada siapa. Mungkin kepada suami yang bisa tetap berangkat ke kantor setiap hari, atau kepada teman-teman dan sahabat Anda yang dari status Facebook-nya tampak sedang belanja di mal atau makan enak di kafe.

Apapun yang Anda rasakan, ingatlah bahwa Anda tidak sendirian. Di antara seribu perempuan yang baru melahirkan pertama kali, mungkin hanya seribu minus satu yang tidak mengalami sindrom baby blues. Dan, jangan menyalahkan diri Anda karena sindrom ini. Salahkan hormone-hormon di dalam tubuh Anda yang sedang berfluktuasi pasca melahirkan. Tenang saja, dua bulan setelah melahirkan, hormon-hormon tersebut akan kembali pada keseimbangannya, dan sindrom ini pun lenyap tak berbekas.

Nah, sementara menunggu dua bulan hingga hormon-hormon ini stabil, ada beberapa hal yang bisa Anda lakukan untuk menghalau si baby blues. Dengan tugas baru sebagai ibu baru, berarti ada kebiasaan-kebiasaan yang harus diubah dan tak bisa lagi Anda pertahankan. Tapi, ada juga beberapa kebiasaan yang sebaiknya tetap Anda lakukan, untuk menjaga otak Anda tetap fresh. Apa saja kebiasaan yang dapat menghalau baby blues?

  1. Jalan-jalan

Bisa ke mal, salon, restoran, atau sekedar mengunjungi kantor meski Anda sedang cuti. Anda butuh suasana berbeda selain kamar dan bayi untuk menenangkan diri sendiri. Jika Anda tak mungkin membawa bayi jalan-jalan ke mal, minta saja bantuan pada nenek dan pengasuhnya untuk menjaga bayi Anda selama beberapa jam. Acara jalan-jalan pun jadi tenang.

  1. Berkunjung ke rumah nenek

Mungkin ini adalah pengalaman pertama Anda dan suami mengasuh bayi. Tak heran jika pengalaman ini sedikit membuat Anda stres. Kenapa tidak mencari dukungan dari orang-orang yang lebih berpengalaman agar Anda berdua merasa lebih kuat dan percaya diri dalam merawat bayi? Seperti dikatakan oleh profesor psikologi, Michael O’Hara, PhD, dari University of Iowa, bahwa support system yang baik dari keluarga besar dapat membantu mengatasi masalah sindrom baby blues.

  1. Lupakan dulu perfeksionis

Cita-cita Anda mungkin adalah menjadi ibu yang sempurna untuk anak Anda. Tapi, jangan memaksakan diri untuk menjadi sempurna sejak awal. Jadilah sempurna seiring proses pembelajaran. Jadi, tak masalah jika saat ini Anda masih tak sempurna sebagai ibu. Toh Anda masih baru belajar, kan.

Gravatar Image
Website ini dibangun dengan harapan mampu memberikan informasi yang berkualitas dalam berbagai topik, Kami membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor sebagai penulis tetap di website ini.