risiko dan reaksi transfusi darah
risiko dan reaksi transfusi darah

Kenali Risiko dan Reaksi Transfusi Darah Yang Benar

Posted on

Transfusi darah merupakan salah satu jalan yang ditempuh dalam menyelamatkan jiwa seseorang. Akan tetapi perlu diketahui bahwa tindakan ini juga memiliki beberapa risiko. Pada mulanya infeksi menjadi kekhawatiran utama dalam transfusi darah, akan tetapi kasus infeksi saat ini semakin langka ditemukan berkat pengujian cermat dan skrining donor. Namun reaksi transfusi dan risiko lain diluar infeksi masih menjadi masalah umum. Berikut beberapa resiko yang mungkin timbul akibat tranfusi darah:

Reaksi akibat Transfusi darah

Transfusi darah terkadang dapat meninggalkan beberapa reaksi transfusi. Reaksi transfusi dapat timbul segera terjadi setelah transfusi dimulai, dapat pula terjadi setelah beberapa hari atau bahkan lebih lama setelah transfusi dilakukan.

Untuk menghindari reaksi yang timbul diperlukan tindakan pencegahan. Sebelum dilakukan transfusi, jenis darah harus diperiksa berkali-kali, kemudian dilakukan cross-matched guna memastikan bahwa jenis darah untuk transfusi cocok dengan jenis darah orang yang hendak mendapatkannya. Reaksi akibat transfusi yang sering terjadi diantaranya:

  • Reaksi Alergi

Reaksi alergi dapat terjadi akibat reaksi tubuh terhadap protein plasma dalam darah donor. Gejala yang seringkali timbul adalah gatal-gatal.

  • Reaksi Demam

Reaksi demam mungkin terjadi sebagai respon tubuh terhadap sel-sel darah putih dalam darah yang disumbangkan. Reaksi demam ini sering terjadi pada orang yang pernah mendapat transfusi sebelumnya, juga pada wanita yang pernah beberapa kali mengalami kehamilan.

Pasien yang rentan mengalami reaksi demam atau risiko reaksi tranfusi lainnya, pada umumnya akan diberikan produk darah yang sel darah putihnya telah diminimalisir sebelumnya.

cara sehat ketika transfusi darah
cara sehat ketika transfusi darah
  • Reaksi hemolitik kekebalan akut

Merupakan jenis reaksi yang paling serius, akan tetapi sangat jarang terjadi. Reaksi ini terjadi apabila golongan darah donor dan pasien tidak cocok. Akibatnya antibodi pasien menyerang sel-sel darah merah yang ditransfusikan, menyebabkan mereka saling melepaskan zat-zat berbahaya ke dalam aliran darah pasien.

Gejala yang dialami pasien akibat reaksi ini diantanya menggigil, demam, nyeri pada dada dan punggung bawah, serta rasa mual. Ginjal dapat mengalami kerusakan parah. Reaksi hemolitik ini dapat mematikan pasien apabila transfusi tidak segera dihentikan.

  • Reaksi hemolitik tertunda

Adalah reaksi yang terjadi ketika tubuh perlahan-lahan menyerang antigen pada sel darah yang ditransfusikan. Pada kasus demikian, sel-sel darah akan mengalami pemecahan setelah beberapa hari atau minggu transfusi dilakukan. Mungkin penderita tidak terlihat mengalami gejala tertentu, akan tetapi sel-sel darah merah yang ditransfusikan menjadi hancur dan dan jumlah sel darah merah pun mengalami penurunan.

Transfusi yang berhubungan dengan cedera paru akut

Merupakan risiko transfusi serius yang tercatat telah terjadi pada sekitar 1 dari setiap 5.000 transfusi. Gejala utama yang timbul pada risiko ini adalah pasien mengalami kesulitan bernapas. Jika timbul gejala ini selama transfusi, maka proses transfusi harus segera dihentikan.

Belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya risiko ini. Pada umumnya, gejala dapat hilang dalam 2 atau 3 hari setelah pasien mendapat bantuan napas dan tekanan darah. akan tetapi tercatat pula kemungkinan kematian akibat kasus ini adalah sekitar 5% sampai 10%.

Graft-versus-host diseaseĀ (GVHD)

Kondisi ini terjadi ketika seseorang yang memiliki sistem kekebalan tubuh sangat lemah mendapat sel darah putih yang cukup agresif dalam produk darah yang ditransfusikan. Akibatnya sel-sel darah putih dari darah transfusi menyerang jaringan tubuh pasien yang mendapat darah.

Guna mencegah risiko GVHD ini, darah yang hendak disumbangkan perlu menjalani radiasi sebelum transfusi. Sinar radiasi yang diberikan dapat membuat sel darah putih menjadi tidak terlalu berbahaya.

Infeksi

Risiko terakhir yang paling banyak ditakutkan adalah terjadinya infeksi melalui transfusi darah. Proses transfusi darah dapat menjadi jalan masuk bagi bakteri, virus, dan parasit kedalam tubuh pasien. Melaui unit pengujian darah yang bertujuan memastikan keamanan kualitas darah transfusi, risiko terjadinya infeksi dapat dihindari. Namun demikian perlu kita sadari pula bahwa sejatinya tidak ada pengujian yang 100% akurat. Beberapa jenis infeksi dapat terjadi pada transfusi darah diantaranya kontaminasi bakteri, infeksi virus Hepatitis B dan C, infeksi virus AIDS, dan beberapa jenis infeksi lainnya.

 

Gravatar Image

Website ini dibangun dengan harapan mampu memberikan informasi yang berkualitas dalam berbagai topik, Kami membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor sebagai penulis tetap di website ini.