Lakukan Hal Ini Ketika Anda Ingin Berbuka Puasa

0
34

Setelah menahan lapar dan dahaga selama belasan jam, wajar jika tubuh Anda seolah ‘menagih’ aneka makanan yang gurih dan lezat, serta minuman yang dingin, manis, dan menyegarkan. Kita seolah mengabaikan fakta bahwa tubuh sesungguhnya tak hanya membutuhkan makanan atau minuman manis yang berkalori tinggi, tetapi juga tinggi serat sebagai makanan pembuka puasa. Hal itu karena kita berpatokan pada kalimat yang menyebutkan “Berbukalah dengan yang manis.” Konon, itulah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), dan jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud).

Memang, kurma memiliki rasa manis. Tapi, samakah rasa manis yang terdapat pada kurma dengan manis sirup dan gula yang kita santap setiap hari sebagai menu pembuka puasa? Ternyata tidak, lho. Kurma merupakan karbohidrat kompleks yang akan diserap sacara lambat oleh tubuh sehingga tidak mengakibatkan kenaikan kadar gula darah secara drastis. Sedangkan sirup atau gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana yang cenderung langsung meningkatkan kadar gula darah. Tak heran jika Anda akan merasa langsung segar setelah mengonsumsi atau meneguknya. Dan tak heran pula jika ini menjadi favorit banyak orang di bulan puasa.

Perihal anjuran berbuka puasa dengan yang manis perlu dipertanyakan kembali keabsahannya. Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa kurma memiliki rasa yang sangat manis. Padahal, kurma segar memiliki rasa yang tidak terlalu manis. Kalorinya pun tidak tinggi. Kita mengenal kurma manis karena kebanyakan kurma yang datang ke Indonesia sudah berbentuk kering berupa manisan kurma yang sebenarnya ditambahkan gula berkali-kali lipat. Sehingga, tak tepat rasanya jika konsumsi sirup dan makanan manis untuk berbuka puasa yang sering kita lakukan ini disebut-sebut sebagai adopsi dari kebiasaan Rasulullah SAW berbuka puasa. Justru, berbuka puasa dengan yang manis bisa merusak kesehatan.

Ketika berpuasa, kadar gula darah kita menurun. Kurma, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, adalah karbohidrat kompleks. Sedangkan sirup dan gula pasir yang ditambahkan ke dalam minuman atau makanan favorit kita adalah karbohidrat sederhana. Karbohidrat kompleks, untuk menjadi glikogen, perlu waktu cukup panjang untuk memprosesnya sehingga kadar gula darah pun tak langsung melonjak naik. Sebaliknya, sirup dan gula akan membuat kadar gula darah langsung naik drastis. Hal ini juga berkaitan dengan nilai indeks glikemik (IG) pada makanan, yaitu laju perubahan makanan diubah menjadi gula di dalam tubuh. Makin tinggi nilai IG, makin cepat makanan tersebut diubah menjadi gula, membuat tubuh makin cepat menghasilkan respons insulin. Semakin tinggi respons insulin tubuh, maka tubuh senderung akan menimbun lemak.

Nah, perut yang kosong karena puasa, bila langsung dibanjiri dengan gula atau makanan ber-IG tinggi, respon insulinnya akan langsung melonjak dan membuat tubuh lebih mudah menimbun lemak. Makanan favorit kita untuk berbuka puasa, selain minuman manis, adalah makanan gorengan. Padahal, keduanya sama-sama makanan ber-IG tinggi. Tak heran jika banyak orang yang justru mengalami kenaikan berat badan di bulan puasa ini. Hal itu karena mereka langsung membanjiri tubuh dengan gula sederhana, sehingga tubuh menimbun lemak.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here