Mengenal Semantik Al-Qur’an Sebagai Pendekatan Mengkaji al-Qur’an

Posted on

Semantik sebagai cabang ilmu bahasa (linguistic) memiliki beberapa makna yang saling melengkapi. Sebagaimana dijelaskan oleh Harimurti dalam Kamus Linguistik, kata semantik (semantics) memiliki dua makna; pertama, semantik adalah bagian struktur bahasa yang berhubungan dengan makna ungkapan dan juga dengan struktur makna suatu wicara, kedua, sistem dan penyelidikan makna dan arti dalam suatu bahasa atau bahasa pada umumnya Toshihiko Izutsu mengatakan bahwa semantik adalah suatu kajian analitis atas istilah-istilah kunci dari suatu bahasa dengan maksud untuk mengungkap secara konseptual pandangan dunia (worldview) –weltanshauung- dari orang-orang yang menggunakan bahasa tersebut.

Jadi, dengan menerapkan analisis semantik ini pada al-Qur’an, kita ingin menangkap pandangan dunia saat ini. Yakni bagaimana dunia wujud menurut al-Qur’an ini dibangun, apa unsurnya dan bagaimana satu unsur dihubungkan dengan yang lain sehingga dapat menghasilkan makna yang mengandung nilai sebenarnya.

Dalam studi Islam, yang menjadi objek kajian pendekatan semantik adalah makna teks al-Qur’an dan al-Hadith. Al-Qur’an dalah firman Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman hidup yang utama bagi manusia. Sedangkan al-Hadith merupakan pedoman hidup yang utama setelah al-Qur’an. Dalam hal ini, pendekatan semantik berupaya memberikan daya tambah terhadap dimensi pengertian dan makna yang terkandung dalam teks al-Qur’an tersebut.

Al-Qur’an (sebagai teks) merupakan objek yang selalu menarik untuk dikaji. Sebab, al-Qur’an merupakan kitab suci yang masih terjaga keotentikannya, baik dari segi bahasa maupun makna yang terkandung dalam bahasa yang digunakan (bahasa Arab). Dalam sejarahnya, al-Qur’an telah melakukan Islamisasi teks maupun konteks peradaban masa Jahiliyyah. Oleh sebab itu, tidak menutup kemungkinan, ungkapan-ungkapan dalam bahasa al-Qur’an masih terkait juga dengan bahasa Arab pra Islam. Sebagaimana yang dilakukan oleh Toshihiko Izutsu dalam beberapa karyanya, seperti God and Man in the Koran: Semantics of the Koranic Weltenschauung dan Ethico Religius Concepts in the Qur’an. Salah satu contoh dari bentuk Islamisasi konsep masa Jahiliyyah ialah pengubahan makna terminologi “Allah”.

Pada sistem pra Islam (Jahiliyyah), konsep Allah tidak lain adalah anggota dari salah satu medan semantik khusus. Sedangkan dalam al-Qur’an, tidak terdapat satu medan semantik (semantic field) pun yang tidak secara langsung berkaitan dengan dan diatur oleh konsep sentral Allah. Artinya, konsep Allah dalam Islam ialah sebagai sentral dari semua konsep yang ada. Menurut Toshihiko Izutsu, al-Qur’an bisa didekati dengan sejumlah cara pandang yang beragam seperti teologi, psikologi, sosiologi, ilmu bahasa, tafsir, dan sebagainya.

Dengan cara itu, al-Qur’an menunjukkan sejumlah perbedaan tergantung pada cara pandang yang digunakan. Akan tetapi, perbedaan tersebut menunjukkan aspek yang sama-sama pentingnya. Begitu pula dengan cara pandang semantik yang akan menghasilkan nilai yang berbeda dengan cara pandang yang lain. Sebab, fungsi analisa semantik sebagai cara pandang baru ialah mengungkap nilai-nilai baru yang terkandung dalam masalah-masalah lama.

Adapun langkah-langkah untuk mengungkap makna kata dalam al-Qur’an dapat dilakukan dengan dua tahapan. Pertama, melacak makna dasar dan makna relasional. Sebab, setiap kata dalam al-Qur’an tidak berdiri sendiri. Ia berhubungan satu sama lain dalam sebuah sistem bahasa al-Qur’an yang kemudian membentuk makna khusus kata tersebut. Kedua, menjelaskan weltanschauung semantik al-Qur’an. Ini merupakan langkah terakhir dari kajian semantik. Artinya, kajian ini berusaha menyingkap pandangan dunia al-Qur’an terhadap kata-kata kunci yang dikaji.

Setelah menentukan makna dasar dan makna relasional langkah selanjutnya yaitu bagaimana al-Qur’an menggunakan kata itu dan bagaimana hubungan kata itu dengan kata-kata yang lain, dimanakah posisinya, fungsinya, pengaruhnya dan sebagainya. Majid bin Aziz Al-Zindani dalam Mukjizat al-Qur’an dan as-Sunnah Tentang Iptek menjelaskan bahwa pendekatan baru ini berupaya, pertama, mengintegrasikan pendekatan linguistik dan pendekatan pragmatik (kontekstual) sebagai suatu studi bahasa yang sistemik. Kedua, pendekatan ini memungkinkan dimaksudkannya kemungkinan-kemungkinan makna atau konsep yang berasal dari maksud wahyu Allah  SWT seperti yang mungkin tampak dalam keseluruhan sistem agama Islam.

 

Gravatar Image

Website ini dibangun dengan harapan mampu memberikan informasi yang berkualitas dalam berbagai topik, Kami membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor sebagai penulis tetap di website ini.