Strategi Diversifikasi Investasi Melalui Bisnis Properti

Posted on

Investasi merupakan kegiatan penanaman modal atau proses mengamankan nilai uang agar senantiasa meningkat dengan menempatkannya pada suatu bidang usaha seperti halnya pada bisnis properti. Salah satu bentuk strategi investasi yang paling populer bahkan di kalangan orang – orang yang masih awam pada dunia investasi yakni strategi diversifikasi investasi. Apa itu diversifikasi investasi? Diversifikasi dalam dunia bisnis dapat dimaknai sebagai penganeka – ragamanan usaha untuk menghindari ketergantungan pada ketunggalan kegiatan, produk, jasa, atau investasi.

Nah, artinya, diversifikasi investasi dimaksudkan agar investasi yang anda lakukan tidak hanya bertumpu pada suatu aset investasi tertentu semata, namun juga pada instrument investasi lainnya misalnya pada bisnis properti, emas, saham, dll. Sehingga ketika ada instrument investasi tertentu yang sedang dalam kondisi kurang optimal untuk mendatangkan keuntungan, maka anda bisa mengandalkan aset atau instrument investasi anda lainnya.

Adapun diversifikasi investasi dapat dilakukan dengan menanamkan modal atau uang anda pada berbagai instrument investasi seperti rumah, tanah, emas, saham dan lain sebagainya. Sebagai ilustrasi yang menggambarkan antara orang yang berinvestasi dengan strategi diversifikasi dan tanpa diversifikasi adalah contok kasus si Komar dan si Udin berikut ini:

Si Komar memiliki uang sejumlah 500 juta rupiah hasil memenangkan undian berhadiah. Karena belum membutuhkan uang tersebut, maka si Komar memutuskan untuk menginvestasikan uangnya pada instrument saham melalui jalur reksa dana saham di suatu bank kustodian. Lalu si Komar meletakkan seluruh uangnya yang berjumlah 500juta rupiah pada salah satu produk reksa dana saham di bank tersebut. Setelah 10 tahun kemudian, di Indonesia ternyata tanpa di duga – duga terjadi krisis ekonomi yang juga berimbas pada pasar saham.

Padahal di sisni lain, si Komar membutuhkan uang untuk memasukkan anaknya di perguruan tinggi idaman sang anak yang biayanya cukup besar. Ketika si Komar hendak mengambil uang investasinya pada manager investasi tempat si Komar membeli reksa dana, betapa kagetnya si Komar karena nilai investasinya justru berkurang akibat adanya penurunan kinerja di pasar saham. Alhasil, si Komar haru menelan rasa pahit akibat hasil investasinya yang tak sesuai harapan.

Si Udin, sama juga seperti si Komar berhasil memenangkan undian berhadiah sebanyak 500 juta rupiah dan hendak menginvestasikannya. Namun si Udin menggunakan strategi diversifikasi pada bisnis properti sekaligus berinvestasi pada saham. Udin menanamkan uangnya sebanyak 100 juta rupiah untuk membeli sebidang tanah di pinggiran kota, 150 juta untuk membeli ruko kecil, dan 200 juta untuk membeli rumah yang kemudian dikontrakkannya, serta 50 juta sisanya diletakkan pada pasar saham. 10 tahun kemudian, si Udin memutuskan untuk “menguangkan” salah satu aset investasinya pada bisnis properti untuk biaya kuliah anak. Si Udin mengamati aset mana yang telah tumbuh secara maksimal.

Lantas si Udin memutuskan menjual sebidang tanah yang dulu dibelinya seharga 100 juta rupiah karena ternyata nilainya 10 tahun kemudian sudah berkembang menjadi seharga 350 juta rupiah, sebab di wilayah pinggiran kota tempat si Udin membeli tanah ternyata tengah dilakukan proyek pembangunan besar – besaran yang membuat harga tanah makin melambung di sana. Dari hasil penjualan, ternyata sudah cukup untuk membiayai kuliah anaknya, maka aset selainnya tetap dibiarkan terus tumbuh.

Sehingga si Udin tak harus menjual unit reksa dana sahamnya yang tengah anjlok, sebab ternyata setahun kemudian, nilainya telah pulih dan bahkan meningkat drastis. Sedangkan aset ruko dan rumahnya masih tetap dipertahankan dan mampu menghasilkan pendapatan tambahan dengan mengontrakkannya.

Investasi terutama pada bisnis properti kini mulai banyak diminati masyarakat yang mulai menyadari pentingnya memanagement kondisi finansial mereka secara cerdas agar bisa mendapatkan kesejahteraan di masa depannya. Semakin tingginya minat masyarakat terhadap investasi terutama investasi pada bisnis properti terkadang kurang diimbangi dengan kemampuan menentukan strategi berinvestasi yang tepat. Strategi investasi yang dimaksud di sini yakni taktik yang dibuat sedemikian rupa agar investasi yang anda lakukan bisa memberikan hasil investasi yang optimal dengan resiko yang minimal.

Baca Juga: Kelebihan dan Kekurangan Berinvestasi Properti Berupa Rumah Tinggal

Nah, dari 2 studi kasus yang terdapat pada artikel “STRATEGI DIVERSIFIKASI INVESTASI MELALUI BISNIS PROPERTI” bagian pertama sebelumnya, kita dapat mengamati bahwa strategi diversifikasi sangat penting untuk menghindari resiko dalam berinvestasi akibat perubahan asumsi – asumsi di lingkungan eksternal yang meliputi kita semua. Strategi yang dilakukan si Udin bisa dibilang sebagai strategi cerdas dalam berinvestasi. Dimana dengan adanya banyak produk investasi, kita bisa menganalisa sendiri, mana aset investasi yang sudah saatnya “dipanen” dan mana yang seharusnya masih harus diberi kesempatan untuk “tumbuh” karena belum maksimal hasilnya bila “dipetik” hari itu juga.

Dalam hal ini, si Udin menganggap investasi pada bisnis properti miliknya telah tumbuh secara maksimal sehingga sudah layak dan siap untuk “dipanen”. Bahkan tak semua aset pada bisnis propertinya dijual kembali, si Udin masih menyimpan aset ruko dan rumah miliknya karena dengan menjual tanahnya pun sudah mendapat keuntungan. Karena bisa memilih, tentunya si Udin lebih mampu meminimalisir kerugian yang mungkin diderita seperti pada kasus si Komar

Sebagaimana strategi para petani yang menanam dengan sistem tanam tumpang sari yakni menanam lebih dari 1 jenis tanaman palawija ataupun sayuran. Sehingga jika salah satu jenis sayur harganya tengah anjlok, maka para petani bisa mengoptimalkan sayuran lainnya yang harganya masih tinggi. Dengan demikian, resiko kerugian dapat ditekan seminim mungkin.

Baca Juga: 6 Bisnis Properti Super Simpel Yang Patut Anda Coba (Bagian 1)

Sedangkan dari kasus si komar, kita dapat melihat kelemahan dari berinvestasi hanya pada satu instrument saja karena terlalu percaya diri bahwa instrument investasi pilihannya tersebut dapat memberikan hasil paling tinggi dibandingkan instrument lainnya. Padahal kondisi eksternal yang sangat tak dapat diprediksi harus selalu dipertimbangkan. Kita dapat mengamati, kerugian yang dialami si Komar dengan menjual unit reksa dananya pada masa krisis ekonomi yang membuat pasar saham tengah anjlok – anjloknya. Sehingga si komar harus gigit jari karena tak dapat merasakan hasil investasi yang diharapkannya dan bahkan nilai pokok investasinya pun berkurang. Padahal, sebagaimana kasus si Udin, jika unit reksa dana sahamnya dijual setahun kemudian, maka nilainya telah kembali pulih dan bahkan meningkat secara drastis.

Investasi pada bisnis properti sangat tepat untuk dijadikan divessifikasi investasi mengingat produk properti yang sangat beragam dan juga memiliki karakteristik yang berbeda satu sama lain. Misalnya saja dengan berinvestasi pada aset tanah, rumah, ruko, vila, apartment dan masih banyak lagi lainnya. Sehingga ketika pun salah satu aset properti nilainya kurang sesuai harapan, maka tak akan mempengaruhi aset lainnya.

Bahkan bisa jadi suatu aset tengah mengalami kenaikan nilai investasi ketika aset yang selainnya tengah mengalami nilai yang stagnan. Mengapa disebutkan nilai yang stagnan dan bukannya nilai yang menurun? Sebab dalam bisnis properti, jarang sekali – jika tak boleh disebut hampir tidak pernah – mengalami penurunan nilai atau harga jual kembali. Oleh karenanyalah, berinvestasi dengan strategi diversifikasi pada bisnis properti sangatlah menguntungkan.

Gravatar Image
Website ini dibangun dengan harapan mampu memberikan informasi yang berkualitas dalam berbagai topik, Kami membuka kesempatan bagi siapa pun untuk menjadi kontributor sebagai penulis tetap di website ini.